Media Sosial dan Tantangan Literasi Digital di Indonesia

Media Sosial dan Tantangan Literasi Digital di Indonesia

Oleh: Regia Shinta Maharani 
Mahasiswi Akuntansi - Universitas Sanata Dharma


Perkembangan teknologi digital di Indonesia semakin pesat dari tahun ke tahun. Salah satu bentuk perkembangan tersebut adalah media sosial. Saat ini, media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Kehadirannya membawa banyak manfaat, mulai dari memudahkan komunikasi, memperluas akses informasi, hingga membuka peluang ekonomi baru. Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga menghadirkan berbagai tantangan yang perlu dihadapi dengan bijak.

Berdasarkan data We Are Social tahun 2024, penggguna media sosial di indonesia mencapai sekitar 139 juta orang atau sekitar 49,9 persen dari total populasi. Angka ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Banyak masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengakses platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, dan Facebook. Media sosial tidak lagi hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana belajar, bekerja, berjualan, dan membangun relasi sosial.

Menurut Rudiantono, pengamat komunikasi digital dari Universitas Indonesia, “Media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi sangat membantu, tetapi di sisi lain bisa melukai jika tidak digunakan dengan bijak” (Kompas.com, 2024). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang harus dipahami oleh setiap pengguna. Jika dimanfaatkan dengan baik, media sosial dapat memberikan banyak keuntungan. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kontrol, media sosial dapat menimbulkan berbagai masalah.

Salah satu manfaat nyata media sosial adalah mempermudah komunikasi tanpa batas jarak dan waktu. Seseorang dapat tetap terhubung dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja hanya melalui telepon genggam. Selain itu, media sosial juga membuka ruang kreativitas dan peluang ekonomi baru. Banyak pelaku UMKM yang terbantu dalam memasarkan produk mereka melalui media sosial. Tidak sedikit pula individu yang memperoleh penghasilan dari konten kreatif yang mereka buat.

Psikolog klinis sekaligus pelaku usaha kuliner, Andini Prameswari, mengatakan, “Lewat media sosial, usaha kecil bisa dikenal luas. Dulu promosi membutuhkan biaya besar, sekarang cukup melalui ponsel” (Tempo.co, 2024). Hal ini membuktikan bahwa media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam mendukung pertumbuhan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

Namun, di balik manfaat tersebut, media sosial juga memunculkan berbagai dampak negatif. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, hingga kecanduan media sosial menjadi masalah yang semakin sering terjadi. Informasi yang belum jelas sumbernya sering kali langsung dibagikan tanpa proses verifikasi. Akibatnya, masyarakat mudah terpengaruh oleh berita palsu yang dapat memicu konflik sosial.

Contoh nyata yang sedang sering terjadi adalah penyebaran hoaks mengenai pendaftaran CPNS 2026 di media sosial. Banyak informasi palsu beredar di Facebook dan WhatsApp yang mengatasnamakan kementerian tertentu, seperti link pendaftaran CPNS Kementerian Imigrasi maupun Kementerian Kesehatan. Padahal, pemerintah belum mengumumkan jadwal resmi seleksi tersebut. Bahkan beberapa tautan palsu meminta data pribadi seperti nama lengkap hingga nomor telepon yang berpotensi menjadi bentuk penipuan digital. Liputan6 menjelaskan bahwa masyarakat diminta lebih waspada karena pemerintah belum memastikan jadwal resmi seleksi CPNS 2026 dan banyak link yang beredar ternyata merupakan hoaks (Liputan6.com, 2026). Kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu meningkatkan literasi digital agar tidak mudah percaya pada informasi viral yang belum tentu benar.

Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Banyak remaja merasa cemas, stres, bahkan rendah diri karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain di media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai comparing life. Menurut Andini Prameswari, “Kecanduan media sosial dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti stres, cemas, bahkan depresi, terutama pada remaja” (Tempo.co, 2024). Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan pribadi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, literasi digital menjadi hal yang sangat penting. Literasi digital adalah kemampuan seseorang dalam memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak di dunia digital. Pengguna media sosial harus mampu berpikir kritis sebelum membagikan informasi. Mereka perlu memastikan bahwa sumber informasi jelas dan dapat dipercaya.

Rudiantono juga menyatakan, “Pengguna harus kritis sebelum membagikan informasi. Pastikan sumbernya jelas dan sudah diverifikasi” (Kompas.com, 2024). Pernyataan ini menegaskan bahwa sikap hati-hati sangat diperlukan agar masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi palsu.

Selain itu, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar penggunaan media sosial tetap sehat. Pertama, membatasi waktu penggunaan media sosial agar tidak berlebihan. Kedua, tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Ketiga, menghindari penyebaran konten negatif atau hoaks. Keempat, menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif dan produktif. Kelima, menjaga sopan santun serta menghormati privasi orang lain dalam berinteraksi di dunia maya.

Pendidikan literasi digital sebaiknya dimulai sejak dini, baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak dalam menggunakan media sosial. Pemerintah juga perlu terus mendorong program literasi digital agar masyarakat semakin cerdas dalam menggunakan teknologi.

Pada akhirnya, media sosial adalah alat yang dampaknya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi sarana belajar, berkembang, dan membangun hubungan sosial yang positif. Namun, jika digunakan tanpa tanggung jawab, media sosial justru dapat menimbulkan banyak masalah. Oleh karena itu, kesadaran dan literasi digital menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bermanfaat bagi semua orang.


Sumber Referensi:

  • We Are Social, Digital 2024 Indonesia
  • Kompas.com, artikel literasi digital, 2024
  • Tempo.co, dampak media sosial terhadap kesehatan mental, 2024
  • Liputan6.com, hoaks pendaftaran CPNS 2026, 2026